yayasanhadjikalla.or.id; Makassar – Sejak digulirkannya program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang dapat mendukung pembelajaran untuk menghasilkan prestasi yang tinggi, ada banyak masalah yang ditemui sekolah-sekolah Madrasah Ibtidaiyah dalam mencapai akreditasi dan status mandiri. Faktor-faktor penyebabnya antara lain adalah rendahnya pengetahuan tentang tata kelola manajemen sekolah yang baik, sekolah belum mampu memahami MBS secara benar dan utuh, pihak sekolah yang masih kesulitan menjalankan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, serta rendahnya kontribusi dana partisipasi para pemangku kepentingan pendidikan di sekolah.

Melihat urgensi tersebut, Yayasan Hadji Kalla mengambil peran dalam memberikan pendampingan kepada sekolah MI dalam penataan kelembagaan terkait Manajemen Berbasis Sekolah menuju MI yang terakreditasi dan mandiri.

Program yang dijalankan diantaranya adalah pelatihan, pendampingan dan penyediaan kelengkapan penunjang akreditasi untuk 40 lembaga jenjang MI di Kabupaten/Kota terpilih di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah). Yayasan Hadji kalla berkontribusi terhadap proses sertifikasi dan kemandirian lembaga jenjang SD/MI di wilayah kerja perusahaan Kalla Group.

Program ini berjalan sejak 2021 lalu dan telah memberikan pelatihan untuk lebih dari 200 guru dan 30 kepala sekolah tingkat MI se-Kota Makassar. Program ini menghadirkan Zulfikar Nur, selaku fasilitator pelatih dari Kantor Kementerian Agama Sulawesi Selatan yang berpengalaman dalam memberikan materi peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru tingkat nasional.

Yayasan Hadji Kalla berkesempatan melihat langsung proses pelatihan peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah MI angkatan ke-8 di MI Tajmiul Akhlak, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, 13 Maret 2022. Dalam pelatihan tersebut terdapat 10 sekolah MI yang ikut serta berikut 10 orang kepala sekolah dan 62 orang guru.

Selama pelatihan, para peserta dibekali berbagai macam materi di antaranya pengetahuan literasi digital, konten pembelajaran kreatif, pembuatan video pembelajaran, dan optimalisasi media pembelajaran. Sementara untuk kepala sekolah MI mendapatkan materi penguatan kapasitas dan manajemen tata kelola sekolah yang baik dan terarah sesuai standar pendidikan nasional.

“Di antara materi yang ada, saya lebih senang materi konten pembelajaran kreatif yaitu pembuatan materi video pembelajaran dan power point. Sebelumnya saya sudah pernah menggunakan video pembelajaran dengan powerpoint, namun setelah pelatihan ini, kemampuan saya tambah meningkat,” ujar Fikram Aziz salah seorang guru dari MI Tajmiul Akhlak. Setelah mengikuti pelatihan ini, Fikram berharap bisa membagikan ilmunya kepada para siswa yang Ia bina secara lebih maksimal.

Senada, Kepala Sekolah MI Darul Hikmah, Panakkukang,  Aminah juga mengaku senang bisa ikut pelatihan peningkatan kapasitas kepala sekolah. Selain mendapatkan ilmu, pelatihan ini juga menambah teman baru untuk saling berbagi informasi. “Yang paling terasa oleh saya setelah ikut pelatihan ini adalah, saya jadi lebih paham dalam metode manajemen tata kelola sekolah khususnya dalam pemecahan masalah internal. Semua materi bagi saya sangat berharga. Saya sangat-sangat berterima kasih kepada pihak Yayasan Hadji Kalla yang telah memfasilitasi kami untuk bisa ikut pelatihan seperti ini” tandas Aminah. Selama ini, kata Aminah, dirinya sudah banyak belajar tentang penataan manajemen sekolah namun masih sangat terbatas. Setelah pelatihan ini pemahamannya semakin bertambah. Dirinya mengetahui bagaimana memaksimalkan berbagai informasi dan kapasitasnya selaku kepala sekolah dalam mengelola sekolahnya.

Zulfikar Nur, selaku fasilitator pelatih mengungkapkan bahwa selama beberapa bulan menjadi pemateri dalam program ini, Ia bertemu banyak guru dan kepala sekolah dengan berbagai masalah pembelajaran dan pengelolaan di sekolah, Ia menjelaskan berusaha memberikan wawasan baru terkait manajemen pengelolaan sekolah yang baik dan terarah. “Tentu ada banyak masalah yang kita temui di setiap sekolah, tapi saya berusaha untuk memberikan banyak informasi terkait pengelolaan yang baik terutama tentang membangun komunikasi antara guru, kepala sekolah dan pengelola yayasan di masing-masing sekolah. Satu lagi yang saya apresiasi dari kegiatan ini adalah kepedulian Yayasan Hadji Kalla terhadap sekolah-sekolah ini. Merupakan pencapaian tersendiri bagi saya pribadi lewat Yayasan Hadji Kalla bisa berkontribusi dalam program pembangunan mutu pendidikan seperti ini'”, ujar Zulfikar.

Selama program ini berjalan, dari data Yayasan Hadji Kalla, telah ada 7 dari total 40 sekolah yang diberikan pendampingan telah mampu mencapai akreditasi dan bisa berstatus mandiri dalam pengelolaan dan aktivitas. Sementara 10 di antaranya sementara dalam proses visitiasi menuju akreditasi. “Capaian ini kita harapkan bisa terus naik sehingga semua sekolah MI yang kita bina dan berikan pendampingan bisa 100% terakreditasi dan berstatus mandiri”, ujar Suharto Parai; Manager Bidang Educare Yayasan Hadji Kalla.

Yayasan Hadji Kalla akan terus berkontribusi dalam berbagai program di sektor pendidikan guna mendukung berbagai pihak dan lembaga untuk bisa maju dan mandiri.

(Br)