yayasanhadjikalla.or.id; Makassar – Yayasan Hadji Kalla resmikan bantuan reaktor biogas untuk dhuafa dalam Program Kampung Iklim (PROKLIM) tahun 2022. Program ini bekerjasama dengan Yayasan Rumah Energi yang bergerak dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat untuk lebih sadar tentang pentingnya konservasi energi melalui energi terbarukan dan gaya hidup  hijau untuk menjamin ketahanan pangan dan energi.

Peresmian Program Kampung Iklim ini dilaksanakan di dua desa di Kabupaten Maros, yakni Desa Simbang dan Desa Sambueja, Rabu, 16 Februari 2022. Acara dihadiri oleh aparat desa setempat, Kepala Bidang Pemberdayaan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maros, Fasilitator Yayasan Rumah Energi dan Tim Bidang Kemanusiaan, Lingkungan dan Kesehatan Yayasan Hadji Kalla.

Program ini diinisiasi atas dasar krisis energi yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Jika berbicara tentang energi, bisa dilihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan, ketersediaan energi untuk berbagai macam kebutuhan akan semakin menipis. Salah satu pengaruhnya adalah penggunaan sumber daya energi yang tidak terbarukan, dalam hal ini minyak dan gas.

Atas urgensi tersebut, kemudian diinisiasilah Program Kampung Iklim ini oleh Yayasan Hadji Kalla. “Dalam lima tahun kedepan, sebagai strategi nasional, energi yang dihasilkan oleh fosil ini sudah mulai menipis dan akan digantikan oleh energi listrik. Namun ada alternatif lain yang hari ini kita coba di rumah salah satu warga Desa Simbang ini, di rumah bapak Haeruddin, yakni reaktor penghasil biogas yang bisa kita hasilkan dari kotoran hewan seperti sapi. Dengan penggunaan energi minyak dan gas yang dikurangi, maka ada konversi energi lain yang  bisa membawa manfaat baru”. Jelas Sapril Akhmady; Manager Bidang Humanity & Enviroment Yayasan Hadji Kalla.

“Kami mau melihat keberlanjutan dari dampak program yang kita jalankan bersama ini (manfaatnya berkelanjutan). Kita berharap rumah bapak Haeruddin ini bisa menjadi contoh belajar bagi warga lain untuk membangun hal serupa. tentu dengan bantuan dari fasilitator YRE dan juga dari bapak Haeruddin yang bisa membagi ilmunya kepada warga lain yang ada di desa ini”. Lanjut Sapril.

Ros Lantara fasilitator dari Yayasan Rumah Energi, implementor dalam Proklim (Program Kampung Iklim) ini menjelaskan bahwa sejak tahun 2021 lalu Ia dan timnya telah melakukan banyak diskusi bersama dengan Yayasan Hadji Kalla terkait program ini, lalu Ia mengirimkan proposal program yang ditindaklanjuti oleh Bidang Kemanusiaan dan Lingkungan Yayasan Hadji Kalla untuk membangun kolaborasi program. Program ini juga bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Maros.

“Pertama, kami lakukan survei kelayakan untuk program ini di dua desa, yakni Desa Simbang Dan Desa Sambueja, Kabupaten Maros. Pertama tentu kita lihat warga yang layak, di mana warga yang kita pilih adalah warga yang memiliki ternak sapi dalam jumlah yang cukup, 7 hingga 10 ekor atau bahkan lebih, di mana semua sapi dipelihara dalam kandang, atau tidak berkeliaran. Hal itu untuk memudahkan nantinya saat kotoran sapi dikumpulkan. Setelah survei dan penentuan user (warga yang akan dibangunkan reaktor biogas), kita melakukan pra-konstruksi, letak bangunan dan penyesuaian dengan kandang sapi, lalu kemudian mulailah dilakukan pembangunan yang dikerjakan langsung oleh tukang ahli bersertifikat dari YRE. Model yang kami gunakan ini adalah model fixed dome ber SNI”. Tutur Ros Lantara.

“Di dalam program ini, kita harapkan adanya program berkelanjutan. bukan hanya soal hasil energi terbarukan, namun ada produk bio-slurry yang juga bisa dihasilkan dari reaktor biogas kita ini, bio-slurry  ini merupakan pupuk organik alami yang bisa langsung diaplikasikan ke tanah maupun tanaman”. Lanjutnya. Ros berharap bahwa dengan kolaborasi ini, diharapkan bisa membawa faedah yang besar untuk masyarakat.

Sementara itu, Muh. Yusri Rasid, Kepala Bidang Pemberdayaan Dinas  Lingkungan Hidup Kabupaten Maros. Menyampaikan terima kasihnya kepada Yayasan Hadji Kalla karena telah memilih dua desa di wilayah Kabupaten Maros untuk menjalankan Program Kampung Iklim.

“Alhamdulillah, kami bersyukur atas program ini, tentu yang pertama adalah terima kasih kami kepada tim Yayasan Hadji Kalla yang sudah memilih desa kami untuk dijalankan Proklim ini, di mana kolaborasi dari para NGO yakni Yayasan Hadji Kalla dan YRE, bisa menjawab kebutuhan masyarakat terkait pengelolaan lingkungan. Dengan reaktor biogas yang dibangun ini, kita bisa mendapatkan sumber daya energi terbarukan dari pengolahan kotoran hewan. Kita berharap bantuan dari Yayasan Kalla ini bisa terus berkembang sampai ke-banyak tempat, agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat terkait energi untuk kebutuhan rumah tangga”. Pungkasnya.

Bapak Haeruddin, selaku user atau penerima manfaat dalam program ini mengaku senang rumahnya bisa dibanguni reaktor biogas. “Saya bersyukur sekali karena biogas ini sudah berfungsi dan kompor kami bisa menyala. Akhirnya kami tidak lagi harus menggunakan gas LPG yang harganya cukup mahal”. Tandasnya.

Haeruddin menjelaskan bahwa dalam sebulan Ia menghabiskan 3 hingga 4 tabung gas LPG ukuran 3 kilogram untuk kebutuhan memasak, harga gas LPG ukuran 3 kilogram di Desa Simbang yakni 25 ribu rupiah, artinya dia dan keluarga mesti menyiapkan uang 75 ribu hingga 100 ribu rupiah setiap bulannya hanya untuk membeli gas LPG. Namun, sejak adanya reaktor biogas dibangun di rumahnya, Ia bisa menghemat uang yang sebelumnya untuk kebutuhan membeli gas, digunakan untuk kebutuhan lain dalam rumah tangga. Dari penjelasan tersebut, dapat dilihat manfaat besar dari Program Kampung Iklim Yayasan Hadji Kalla ini kepada para penerima manfaat.

Menurut Sapril, Bidang Humanity & Environment Yayasan Hadji Kalla saat ini sementara menggodok beberapa program alternatif yang sifatnya belum terjamah oleh pemerintah, di mana pihak swasta bisa masuk dan membangun berbagai program yang sifatnya berkelanjutan.

“Kita juga di Yayasan Hadji Kalla punya motto bahwa kerja itu ibadah, di mana apa yang kita lakukan ini bisa membawa manfaat di hari kemudian, ada nilai ibadah di hari-hari kedepan”. Tutupnya.

(Br)