yayasanhadjikalla.or.id; Jeneponto – Antusias, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan semangat belajar yang begitu besar dari para masyarakat Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Jeneponto. Setiap hari selama ramadhan, mesjid-mesjid di desa penuh sesak ketika waktu sholat tiba. Apalagi dengan ditempatkannya sorang Da’i dari STIBA (Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab) yang akan memberikan bimbingan kepada masyarakat tentu semakin menambah antusiasme dari warga yang ada di Desa Tanammawang.

Di desa yang terletak di daerah perbukitan sebelum Kota Jeneponto ini memiliki penduduk lebih dari seribu jiwa yang semuanya beragama Islam, sehingga hampir di setiap sudut desa terdapat mesjid. Setidaknya ada tujuh mesjid yang menjadi pusat kegiatan ibadah di tempat tersebut.

Ahmda Fahrizal, adalah dai muda yang di tempatkan di Desa Tanammawang, baginya ini adalah pengalaman pertama berdakwah di daerah, tinggal dan memberikan bimbingan bagi anak-anak dan masyarakat yang ada di Desa Tanammawang. Menurutnya, yang menjadi hal paling berkesan selama berada di desa tersebut adalah semangat belajar dari para masyarakat yang begitu besar baik dari anak-anak hingga orang dewasa. Ia menjalankan beberapa program seperti mengajar anak-anak baca tulis al-quran, tadarrus dengan warga setiap malam hingga berkeliling dusun untuk membawakan ceramah tarwih maupun kultum subuh.

Fahrizal bercerita, bahwa setiap kegiatan yang Ia lakukan selalu dipenuhi sesak oleh para anak-anak, setidaknya ada lebih dari 30 anak di tiap mesjid yang selalu datang untuk belajar, itu artinya ada lebih dari 200 anak yang harus Ia ajari mengaji jika dikalikan dengan jumlah mesjid yang ada, sehingga harus membuatkan jadwal untuk setiap mesjid.

Tidak hanya anak-anak, orang tua bahkan perangkat desa pun ikut antusias untuk belajar. Dai muda yang masih berusia 20 tahun ini bahkan menceritakan betapa bahagianya Ia karena begitu diterima oleh masyarakat Desa Tanammawang karena kehadirannya tidak hanya sekadar berceramah di mesjid tapi juga bisa memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat desa.

Saat dihubungi oelh Tim Yayasan Hadji Kalla yang akan membawakan paket wakaf Al-Quran, Ia sangat senang karena dengan bantuan yang dibawakan berupa al-quran bisa semakin memudahkan dirinya untuk mengajar di mesjid.

Di sela obrolan bersama dengan tim, Fahrizal menceritakan suka dukanya selama tinggal di Desa Tanammawang menjadi dai. Selain harus bisa beradaptasi dengan masyarakat dan lingkungan, ia juga dituntut mampu mandiri dalam memberikan bimbingan secara tepat kapada masyarakat.  Walaupun banyak hal yang membatasi seperti susahnya mendapatkan air, wilayah yang berada di tengah perbukitan dengan jalanan yang curam hingga jaringan telefon selular yang minim, yang membuatnya harus bersabar hanya untuk menghubungi keluarga yang berada di Gowa. Tapi untuknya, hal tersebut justru menjadi penyemangat baginya untuk bisa lebih baik dalam menjalankan tugas mulia yang Ia jalankan.

“Yah walaupun banyak yang membatasi di tempat ini, tapi itu jadi hal yang menyenangkan bagi saya, membuat saya bisa semakin baik dalam berdakwah dan membimbing masyarakat di sini”, Ujarnya.

Ia berharap selapas tugasnya di Desa Tammawang yang hanya sampai akhir ramadhan nanti, masyarakat tetap bisa menjaga semangatnya untuk tetap belajar teruatama bagi para anak-anak yang Ia ajari mengaji.

“Inshaalah, setelah saya selesai bertugas di sini masyarakat akan tetap bersemangat untuk belajar dan beribadah”, singkatnya.