by reni juliani

Share

WhatsApp Image 2026 01 29 at 14.43.29

Makassar, Januari – Upaya memperkuat ketahanan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim terus didorong melalui Program Kampung Hijau Energi yang digagas oleh Program Humanity and Enviroment, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla. Dijalankan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, program ini menjadi salah satu ikhtiar berbasis komunitas dalam menjawab tantangan krisis lingkungan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Program Kampung Hijau Energi mengintegrasikan pertanian organik, peternakan, dan pengolahan limbah menjadi energi terbarukan dalam satu siklus berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, masyarakat didorong untuk mengelola sumber daya lokal secara efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.

Kampung Hijau Energi merupakan program kolaboratif yang dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, serta Kabupaten Maros, Pinrang, dan Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat menerapkan praktik siklus yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Tanaman organik yang dibudidayakan warga dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Selanjutnya, limbah ternak diolah menggunakan teknologi biogas untuk menghasilkan energi api biru serta pupuk organik cair. Energi biogas digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan LPG.

Sementara itu, pupuk organik cair dikembalikan ke lahan pertanian untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Praktik ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya produksi bagi petani dan peternak.

Dalam Program ini, LAZ Hadji Kalla berkolaborasi dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau. Selain memperkuat ekonomi warga, program ini berkontribusi langsung pada mitigasi perubahan iklim dengan menekan emisi metana dari limbah ternak serta mendorong praktik pertanian rendah karbon.

Program Manager Humanity and Environment LAZ Hadji Kalla, Sapril Akhmady, menyebut pendekatan Sirkular ekologis berdampak sebagai kunci keberhasilan program.

“Ketahanan iklim berbicara tentang kapasitas suatu wilayah untuk menghadapi gangguan iklim seperti kekeringan, banjir, kenaikan suhu, atau ketidakpastian musim yang secara nyata berdampak pada kondisi sosial dan lingkungan, sementara Kampung Hijau Energi merupakan salah satu instrumen praktis di tingkat komunitas yang secara langsung membangun kapasitas tersebut melalui pendekatan energi terbarukan, pengelolaan limbah biomassa, dan penguatan ekonomi lokal. Program ini membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi sumber nilai tambah bagi petani dan peternak sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Yayasan Forum Komunitas Hijau, Hamzah, menilai Kampung Hijau Energi sebagai contoh nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak. “Ketahanan lingkungan harus dibangun dari komunitas. Kampung Hijau Energi menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari pola pikir dan praktik sehari-hari masyarakat,” katanya.

Melalui kolaborasi multipihak, Program Kampung Hijau Energi membuktikan bahwa solusi lingkungan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Kelompok Tani Ternak, Desa Benteng Paremba, Kec. Lembang, Pinrang, Muhajir menyampaikan tantangannya dalam membangun gagasan ini hingga mendapat dukungan dari LAZ Hadji Kalla yang bekerjasama dengan Yayasan Forum Komunitas Hijau.

“Bagi saya, tekanan dari warga dan keluarga serta tokoh tokoh adat akibat dari minimnya informasi menjadi cermin betapa gagasan baru sering dianggap ancaman ketika lahir di ruang yang belum siap berdialog. Usulan saya dinilai mengganggu keseimbangan sosial, bahkan sempat diminta dihentikan demi meredam konflik. Di titik inilah saya menyadari, banyak ide baik di desa gugur bukan karena salah, tetapi karena berjalan sendirian. Maka saya memilih bertahan, bukan dengan melawan, melainkan dengan merajut jejaring,” jelasnya.

“Saya belajar bahwa ide hijau tidak cukup disuarakan, ia harus dibuktikan. Mendatangi dinas, komunitas, dan pendamping bukan untuk membantah warga, tetapi untuk menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak bertentangan dengan budaya desa. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi cara baru merawat nilai lama. Dari konflik itulah saya belajar, perubahan tidak selalu lahir dari kemenangan, tetapi dari kesabaran untuk terus menjelaskan, merangkul, dan membuktikan,” pungkas Muhajir.

Saat ini, dengan program Kampung HIjau Energi dan jejaring komunitasnya, Muhajir merasa tidak sendiri, sebagai kader kampung hijau ia bertekad melalui pusat edukasi komunitas ini, ia dapat menyebarkan manfaat lebih banyak lagi ke warga sekitarnya.

Program Kampung hijau energi ini memperkuat kemampuan komunitas untuk bertahan dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim melalui pengelolaan energi dan sumber daya lokal yang berkelanjutan.