by reni juliani
Share

Parigi Moutong, Agustus 2026 – Krisis El Niño yang berdampak pada ketersediaan air dan produktivitas pertanian menjadi tantangan bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Melalui program Desa Bangkit Sejahtera (DBS) dari Bidang Community and Development Care (Comdev), yang dijalankan di 3 (tiga) desa yang terletak di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, dan telah didampingi oleh LAZ Hadji Kalla selama 2 tahun terakhir ini. Ketiga desa tersebut adalah ; Desa Ta’aniuge di Kecamatan Tomini, serta Desa Baina’a Barat dan Desa Ambason Mekar di Kecamatan Tinombo.
Masyarakat didorong untuk tidak hanya bergantung pada komoditas tertentu yang rentan terhadap perubahan cuaca, tetapi mulai mengembangkan sumber penghasilan alternatif yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Program DBS hadir sebagai upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mendorong penerima manfaat agar memiliki kemampuan dan sumber penghasilan yang lebih beragam bahkan setelah program berakhir. Pendekatan ini menjadi penting terutama bagi kelompok petani yang sebelumnya sangat bergantung pada musim dan hasil panen komuditi sebagai sumber utama pendapatan keluarga.
Program Manager Comdev LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, mengatakan bahwa kondisi El Niño menjadi salah satu momentum untuk mendorong masyarakat beradaptasi dengan tantangan yang dihadapi. Menurutnya, ketergantungan pada satu jenis usaha membuat masyarakat lebih rentan ketika terjadi perubahan kondisi alam yang mempengaruhi produktivitas pertanian.
“Ketika terjadi El Niño berupa kemarau yang panjang, kelompok masyarakat yang sebelumnya fokus melakukan budidaya komuditi pertanian ataupun perkebunan menghadapi tantangan karena kondisi kekeringan dan debit sumber air yang menurun drastis.Karena itu, kami mendorong masyarakat untuk melihat potensi lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi wilayah, sehingga sumber penghasilan mereka tidak hanya bergantung di sisi hulu yaitu budidaya komuditi pertanaian ataupun perkebunan” ujarnya.
Dengan intervensi Program DBS dan pendampingan dari Field Facilitator (pendamping desa) LAZ Hadji Kalla, petani dan kelompok masyarakat lainnya,diajarkan untuk mulai mengembangkan berbagai pilihan usaha yang tidak rentan akan perubahan iklim, di antaranya melakukan budidaya komuditi tertentu yang relatif tahan akan perubahan cuaca seperti Timun, Kacang Panjang dan juga Kakao.
Serta usaha lain seperti pemanfaatan daun kelapa menjadi produk sapu lidi dan piring lidi serta membentuk kelompok usaha rumahan dengan produk souvenir celengan karakter. Diversifikasi tersebut menjadi bentuk adaptasi masyarakat untuk tetap produktif sekaligus memperluas sumber pendapatan keluarga di tengah kondisi lingkungan yang tidak menentu.
Kepala Desa Ambason Mekar, Abdul Aziz E. Hamu, di kesempatan yang sama, menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada LAZ Hadji Kalla, karena selama 2 tahun terakhir desa yang dipimpinnya terpilih menjadi salah satu desa binaan LAZ Hadji Kalla yang ada di Sulawesi Tengah. Di mana selama pendampingan dan pembinaan tersebut warga desa Ambason Mekar banyak menerima manfaat, bukan hanya peningkatan ilmu dan ketrampilan namun juga sudah sampai kepada peningkatan pendapatan bagi kelompok masyarakat yang terpilih menjadi penerima manfaat program pemberdayaan dari LAZ Hadji Kalla.
“Saya selaku Kepala Desa Ambason Mekar sangat bersyukur dan berterima kasih kepada LAZ Hadji Kalla yang telah banyak menjalankan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa kami selama ini.Semoga semakin banyak desa yang akan mendapatkan pendampingan dari LAZ Hadji Kalla di waktu mendatang dan semoga kami juga akan selalu dapat melanjutkan program dari LAZ Hadji Kalla secara mandiri, walaupun desa kami sudah tidak didampingi lagi oleh LAZ Hadji Kalla” ujarnya.
Untuk info lebih lanjut, hubungi kami :
Email : info@yayasanhadjikalla.or.id
IG, Threads, X : @yayasankalla
FB : yayasanhadji kalla
Kunjungi kami :
Website : www.yayasanhadjikalla.or.id

