by reni juliani
Share

Makassar, Mei 2026 – LAZ Hadji Kalla kembali menginisiasi langkah strategis dalam penguatan program Desa Bangkit Sejahtera (DBS) dengan menggelar workshop peningkatan kapasitas fasilitator desa. Kegiatan ini difokuskan pada penyempurnaan proses seleksi penerima manfaat agar lebih terarah, terukur, dan berdampak jangka panjang bagi kemandirian ekonomi desa.
Workshop ini dirancang tidak sekadar sebagai forum transfer pengetahuan, tetapi sebagai ruang evaluasi kritis terhadap praktik pendampingan yang selama ini berjalan. Fasilitator desa didorong untuk memahami bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh distribusi bantuan, melainkan oleh ketepatan dalam memilih penerima manfaat yang benar-benar siap dan memiliki potensi berkembang.
Dalam pemaparannya, Program Manager Community and Development (Comdev), Erny Rachmi Nurdin menegaskan pentingnya pendekatan berbasis kesiapan dan komitmen. Menurutnya, intervensi program akan lebih efektif ketika diberikan kepada individu atau kelompok yang telah menunjukkan komitmen dan motivasi yang kuat untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pendampingan hingga selesai
Ia juga menyoroti bahwa selama ini salah satu kendala yang kerap ditemui di lapangan adalah, ketidaktepatan dalam memilih individu kunci untuk menjadi penerima manfaat yang konsisten dan bertanggung jawab mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program hingga program dinyatakan selesai. Kendala lain yang sering ditemui pula adalah masih relatif sulitnya ditemukan individu kunci penerima manfaat yang mampu mengaplikasikan ilmu & ketrampilan yang telah diberikan untuk digunakan dalam melanjutkan program pendampingan secara mandiri sehingga tercapai manfaat keberlanjutan program yang telah diinisiasi oleh LAZ Hadji Kalla.
Oleh karenanya dengan workshop ini, diharapkan fasilitator desa LAZ Hadji Kalla akan makin meningkat kapabilitasnya dalam mengidentifikasi dan menyeleksi calon penerima manfaat sekaligus menjadi individu kunci yang bukan hanya menunjukkan antusiasme sementara namun juga berkomitmen & bertanggung jawab mengikuti rangkaian kegiatan program pemberdayaan hingga selesai.
Sementara itu, Pemateri dan Implementor, Perdana Kusuma, memberikan penguatan teknis terkait pentingnya indikator seleksi penerima manfaat dalam program pemberdayaan. Menurutnya, fasilitator desa perlu memiliki kemampuan analisis yang tajam agar dapat membedakan penerima manfaat yang benar-benar memiliki potensi berkembang dengan pihak yang hanya tampak potensial di permukaan.
“Teman-teman Fasilitator Desa dari LAZ Hadji Kalla mempelajari tentang delapan dimensi yang kemudian membantu mereka untuk memfilter siapa sebenarnya penerima manfaat yang betul-betul potensial, bukan yang hanya sekadar terlihat potensial atau faking good,” ujar Perdana Kusuma.
Dana juga menilai bahwa Fasilitator Desa LAZ Hadji Kalla sejatinya telah memiliki modal kuat dalam membaca kondisi masyarakat. Pengalaman panjang mereka di lapangan menjadi bekal penting dalam memahami karakter, kebutuhan, dan peluang pengembangan penerima manfaat. Namun, pengalaman tersebut perlu diperkuat dengan kemampuan menyajikan data, indikator, dan hasil analisis secara lebih jelas.
Menurutnya, fasilitator desa tidak hanya dituntut untuk mengenal masyarakat dampingan, tetapi juga mampu menerjemahkan temuan lapangan ke dalam data yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, proses seleksi penerima manfaat tidak hanya berbasis pengamatan subjektif, tetapi juga didukung oleh indikator yang terukur.
Lebih jauh, Dana menekankan bahwa fasilitator desa harus mampu membedakan antara kebutuhan dan potensi. Tidak semua pihak yang membutuhkan bantuan memiliki kesiapan untuk berkembang secara ekonomi, sehingga diperlukan ketajaman analisis agar program DBS dapat menciptakan dampak yang berlipat dan berkelanjutan.
Melalui workshop ini, LAZ Hadji Kalla ingin memastikan bahwa pendekatan pemberdayaan yang dilakukan tidak bersifat karitatif semata, tetapi berorientasi pada pembangunan sistem ekonomi desa yang mandiri. Fasilitator desa diharapkan menjadi agen perubahan yang tidak hanya mendampingi, tetapi juga mampu mengarahkan masyarakat menuju kemandirian.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan LAZ Hadji Kalla dalam meningkatkan kualitas implementasi program DBS. Dengan penguatan kapasitas fasilitator desa, diharapkan proses seleksi penerima manfaat semakin akurat, sehingga program yang dijalankan mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat desa.
Untuk info lebih lanjut, hubungi kami :
Email : info@yayasanhadjikalla.or.id
IG, Threads, X : @yayasankalla
FB : yayasanhadji kalla
Kunjungi kami :
Website : www.yayasanhadjikalla.or.id
