by reni juliani

Share

WhatsApp Image 2026 09 30 at 13.33.49 (1)

Pinrang, Oktober 2026 — Musim kemarau panjang menjadi tantangan tersendiri bagi petani padi di sejumlah wilayah Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Keterbatasan air membuat sebagian lahan sawah mulai mengering, tanah retak, dan pertumbuhan tanaman tidak lagi merata.

Kondisi tersebut juga dirasakan petani di Desa Rajang dan Desa Benteng Paremba, Kecamatan Lembang. Namun, di tengah keterbatasan itu, kelompok petani binaan LAZ Hadji Kalla tetap berupaya menjaga sawah mereka hingga masa panen tiba.

Melalui Program Desa Bangkit Sejahtera (DBS), LAZ Hadji Kalla telah mendampingi kelompok petani di kedua desa tersebut selama dua tahun. Pendampingan dilakukan melalui pelatihan, bantuan benih padi varietas unggul, pupuk dan obat hama, serta pendampingan budidaya dari masa tanam hingga panen.

Ikhtiar tersebut perlahan menunjukkan hasil. Pada akhir Agustus 2026, kelompok petani binaan di Desa Rajang berhasil memanen 10,94 ton Gabah Kering Panen (GKP) dari lahan seluas dua hektare. Hasil tersebut meningkat sekitar 83 persen dibandingkan baseline, yang sebelumnya berada di kisaran enam ton untuk luasan lahan yang sama.

Tidak hanya dari sisi jumlah, hasil panen kali ini juga memiliki nilai jual yang lebih baik. Gabah dari kelompok petani Desa Rajang terjual dengan harga Rp7.600 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Hasil serupa juga dirasakan kelompok petani binaan di Desa Benteng Paremba. Pada awal September 2026, mereka berhasil memanen 6,9 ton GKP dari lahan seluas 0,8 hektare, dengan harga jual Rp7.500 per kilogram. Hasil tersebut meningkat sekitar 15–30 persen dibandingkan capaian sebelumnya.

Bagi para petani, hasil panen ini bukan sekadar angka. Di tengah musim kemarau yang panjang, setiap bulir padi menjadi buah dari ketekunan menjaga tanaman, mencari sumber air, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan.

“Alhamdulillah, keberhasilan kelompok petani di Desa Rajang ditunjang oleh berbagai faktor, mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas, bantuan bibit padi varietas Mekongga, pupuk dan obat hama, hingga pendampingan budidaya dari demplot sampai panen,” ujar Hamid, Fasilitator LAZ Hadji Kalla di Desa Rajang.

Menurut Hamid, kesungguhan petani menjadi bagian penting dari proses tersebut. Para petani tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga berusaha menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pendampingan. Bahkan, ketika ketersediaan air semakin terbatas, mereka melakukan pompanisasi untuk memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi.

Hal serupa disampaikan Sufyan Tsauri Wahid, Fasilitator LAZ Hadji Kalla di Desa Benteng Paremba. Menurutnya, kemauan dan rasa tanggung jawab petani menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan budidaya di tengah kondisi yang tidak mudah.

“Di musim kemarau ekstrem, membudidayakan padi menjadi tantangan tersendiri. Ketersediaan air semakin terbatas. Kelompok tani bahkan harus melakukan pompanisasi hingga tengah malam agar kebutuhan air untuk demplot tetap terpenuhi,” ungkap Sufyan.

Dalam proses budidaya, kelompok petani juga mendapatkan pendampingan dari tenaga ahli Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Pinrang. Samsuddin, SP., MP., menjelaskan bahwa varietas Mekongga dipilih karena memiliki produktivitas yang cukup tinggi, umur panen relatif genjah, kualitas beras yang baik, serta memiliki ketahanan terhadap sejumlah penyakit.

Pendampingan juga disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing kelompok. Petani di Desa Rajang menerapkan teknik Tabela (Tanam Benih Langsung), sementara kelompok di Desa Benteng Paremba menggunakan teknik heksagonal.

Perbedaan teknik tersebut menjadi bagian dari proses belajar petani untuk menemukan cara budidaya yang sesuai dengan kondisi lahannya. Dari proses itu, mereka tidak hanya memperoleh hasil panen, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan yang dapat diterapkan untuk musim tanam berikutnya.

Bagi LAZ Hadji Kalla, capaian ini menjadi bagian dari perjalanan pemberdayaan yang lebih panjang. Sebab, tujuan program tidak berhenti pada bantuan yang diterima hari ini, tetapi bagaimana petani memiliki kemampuan, pengetahuan, dan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan usahanya secara mandiri.

Di tengah musim yang tidak selalu berpihak, para petani Desa Rajang dan Benteng Paremba menunjukkan bahwa keterbatasan bukan akhir dari sebuah usaha. Dengan pendampingan, ketekunan, dan ikhtiar bersama, lahan yang sempat terancam kekeringan tetap dapat menghadirkan hasil.

Dari zakat yang ditunaikan, lahir ikhtiar yang menguatkan. Dari sawah yang dirawat, tumbuh harapan untuk kehidupan yang lebih berdaya dan mandiri.

Untuk info lebih lanjut, hubungi kami :

Email : info@yayasanhadjikalla.or.id

IG, Threads, X : @yayasankalla

FB : yayasanhadji kalla

Kunjungi kami :

Website : www.yayasanhadjikalla.or.id