Categories: Monev, News

by reni juliani

Share

Categories: Monev, News
WhatsApp Image 2026 09 22 at 14.49.12 (3)

Makassar, September 2026 – Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla melalui fungsi Monitoring dan Evaluasi (Monev) melaksanakan Mid Term Evaluation (MTE) Program Desa Bangkit Sejahtera (DBS) 2026. Evaluasi ini dilakukan untuk melihat sejauh mana program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus mengidentifikasi perubahan yang mulai dirasakan penerima manfaat di wilayah dampingan.

Evaluasi ini menjadi bagian penting untuk mengukur capaian sementara Program DBS sebelum memasuki tahap akhir. Tim Monev tidak hanya melihat kesesuaian pelaksanaan dengan tujuan program, tetapi juga menilai efektivitas, efisiensi, dampak awal, serta potensi keberlanjutan program pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Monitoring & Evaluation Specialist LAZ Hadji Kalla, Sitti Hatija Baco, mengatakan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan program dari sisi penerima manfaat maupun kondisi di lapangan.

“Evaluasi ini penting untuk melihat apakah intervensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dimanfaatkan dengan baik, dan mulai menghasilkan perubahan sesuai dengan tujuan program. Dari proses ini, kami juga ingin memahami apa yang menjadi faktor pendukung maupun kendala di lapangan,” ujarnya.

Dalam prosesnya, evaluasi menilai lima aspek utama, yaitu relevansi, efektivitas, efisiensi, dampak, dan keberlanjutan. Penilaian tersebut diarahkan untuk melihat kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat, pencapaian tujuan, pemanfaatan sumber daya, perubahan awal yang dirasakan penerima manfaat, hingga kemampuan masyarakat mempertahankan kegiatan dan perubahan setelah dukungan program berakhir.

Sementara itu, Enumerator Monev LAZ Hadji Kalla, Pemmisan, mengatakan secara keseluruhan pelaksanaan Program DBS menunjukkan arah yang positif. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan mulai diterapkan dalam praktik, sementara fasilitas yang diberikan telah dimanfaatkan oleh penerima manfaat.

“Semangat penerima manfaat tetap terjaga meski menghadapi tantangan seperti kemarau berkepanjangan, tanah kering, dan keterbatasan akses air. Yang paling terlihat bukan hanya perkembangan tanaman, ternak, maupun usaha, tetapi juga perubahan sikap. Mereka mulai percaya diri, mampu menerapkan pengetahuan, dan memiliki keinginan untuk melanjutkan bahkan mengembangkan usahanya secara mandiri,” katanya.

Menurut Pemmisan, perubahan tersebut menjadi salah satu hal penting yang terlihat selama proses evaluasi. Penerima manfaat yang sebelumnya mengalami kegagalan dalam usaha atau belum memiliki pengalaman, mulai mencoba kembali dengan pengetahuan dan metode yang diperoleh melalui program. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya kepercayaan diri hingga munculnya keinginan untuk mengembangkan kegiatan secara lebih mandiri.

Meski demikian, evaluasi juga menemukan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian pada tahap pendampingan berikutnya. Keterbatasan air akibat kondisi kemarau menjadi salah satu tantangan yang dapat memengaruhi keberlangsungan kegiatan. Selain itu, penguatan pencatatan usaha, pembagian peran, kesiapan menghadapi perubahan kondisi, serta perluasan akses pasar dinilai penting agar manfaat program tidak berhenti pada tahap penerimaan bantuan.

Melalui MTE, LAZ Hadji Kalla berharap hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk memperkuat strategi pendampingan Program DBS hingga tahap berikutnya. Dengan evaluasi yang dilakukan langsung dari lapangan, program diharapkan semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menguatkan proses perubahan dari penerima manfaat menuju masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Untuk info lebih lanjut, hubungi kami :

Email : info@yayasanhadjikalla.or.id

IG, Threads, X : @yayasankalla

FB : yayasanhadji kalla

Kunjungi kami :

Website : www.yayasanhadjikalla.or.id