by reni juliani

Share

WhatsApp Image 2026 10 21 at 14.00.28 (1)

Buton Tengah, Oktober 2026 – Dari penghasilan ratusan ribu rupiah hingga peluang meraih pendapatan jutaan rupiah melalui usaha bersama, perubahan itu kini dirasakan La Edi, La Isinini, dan La Adi, tiga warga prasejahtera di Desa Kamama Mekar, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah.

Melalui program pemberdayaan LAZ Hadji Kalla, mereka mengolah fly ash dan bottom ash (FABA), residu pembakaran batu bara dari PLTU Baruta, menjadi batako bernilai ekonomi sebagai langkah memperkuat penghidupan keluarga. PLTU Baruta merupakan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2×7 MW atau total 14 MW yang turut mendukung sistem kelistrikan Pulau Buton.

Keberadaan pembangkit ini membantu meningkatkan keandalan pasokan listrik di wilayah Baubau dan Buton sekaligus menunjang aktivitas masyarakat dan perekonomian setempat. Di sekitar pembangkit tersebut, FABA kemudian dilihat sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi melalui program pemberdayaan masyarakat.

Berdasarkan observasi mandiri fasilitator desa LAZ Hadji Kalla, FABA yang dihasilkan PLTU Baruta diperkirakan mencapai 40 ton per bulan. Melihat potensi tersebut, Andi Aria Satria selaku fasilitator desa LAZ Hadji Kalla menggagas pemanfaatan FABA sebagai bahan campuran pembuatan batako dan paving block. Inisiatif ini diarahkan untuk membuka peluang usaha bagi warga sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar desa secara bertanggung jawab.

Langkah awal program dilakukan melalui pelatihan dan bimbingan teknis pembuatan batako serta paving block pada 2025, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buton Tengah. Sebanyak 15 warga mengikuti pelatihan tersebut, sebelum tiga warga dari keluarga prasejahtera dipilih untuk mendapatkan pendampingan lanjutan.

Mereka adalah La Edi, yang sebelumnya bekerja sebagai nelayan rumput laut jenis SP dengan penghasilan sekitar Rp1 juta-Rp1,2 juta per bulan, serta La Isinini dan La Adi yang bekerja sebagai buruh harian lepas dengan pendapatan masing-masing sekitar Rp500 ribu per bulan. Ketiganya kemudian membentuk kelompok usaha yang diketuai La Edi.

Untuk mendukung pengembangan usaha, LAZ Hadji Kalla memberikan pendampingan produksi dan pemasaran, bantuan peralatan, serta satu unit mesin mixer molen. Dalam pembuatan setiap 100 buah batako, kelompok ini menggunakan 20 kilogram semen, 50 kilogram FABA, 150 kilogram pasir timbunan, dan 15 liter air.

Hingga periode Agustus-September 2026, produksi kelompok telah mencapai rata-rata 8.000 hingga 11.000 batang batako per bulan.Produksi tersebut diharapkan terus meningkat yang menunjukkan bahwa usaha ini  terus bergerak mengikuti permintaan pasar.

Perubahan juga mulai dirasakan dari sisi penghasilan. Setiap anggota kelompok dapat memperoleh sekitar Rp.3,5 juta–Rp4  juta pada setiap bulan sesuai  pesanan., sehingga pendapatan tersebut  belum bersifat tetap untuk setiap bulan.

Meski demikian, peluang penghasilan ini memberi harapan baru bagi La Edi, La Isinini, dan La Adi untuk memperkuat ekonomi keluarga melalui usaha yang mereka bangun bersama.

Ketua kelompok batako FABA, La Edi, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan dan pendampingan yang diberikan LAZ Hadji Kalla.

“Terpilihnya kami bertiga sebagai kelompok binaan LAZ Hadji Kalla merupakan limpahan rahmat yang tak terkira dari Allah Ta’ala. Terima kasih kepada keluarga Bapak Jusuf Kalla dan LAZ Hadji Kalla yang telah membantu warga seperti kami, yang tinggal di desa jauh dan terpencil. Semoga keluarga Bapak Jusuf Kalla selalu sehat, berkah hidupnya, dan semakin banyak membantu orang-orang yang membutuhkan,” ungkapnya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Kamama Mekar, Ismail, S.Pd., yang menilai pendampingan LAZ Hadji Kalla selama dua tahun membantu masyarakat mengenali dan mengembangkan potensi desa, termasuk rumput laut, bahan baku mutiara, dan potensi pemanfaatan residu PLTU.

Melalui program pemberdayaan masyarakat, LAZ Hadji Kalla terus mendorong potensi lokal agar memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Kisah La Edi, La Isinini, dan La Adi menunjukkan bahwa keterampilan, pendampingan, dan dukungan sarana yang tepat dapat membuka jalan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan penghasilan.

Lebih dari sekadar menghasilkan batako, program ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kemandirian ekonomi keluarga dan memperluas kesempatan masyarakat desa untuk membangun penghidupan yang lebih baik.

Untuk info lebih lanjut, hubungi kami :

Email : info@yayasanhadjikalla.or.id

IG, Threads, X : @yayasankalla

FB : yayasanhadji kalla

Kunjungi kami :

Website : www.yayasanhadjikalla.or.id